Kisah Wafatnya Rasulullah SAW

Tinggalkan komentar

Kisah Wafatnya Rasulullah SAW.

Iklan

Haji Yang Mabrur tanpa pergi haji

Tinggalkan komentar

Suatu ketika Abdullah bin al-Mubarak menunaikan ibadah haji. Ketika beliau
sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua
Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
“Rasanya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali”,
komentar salah satu Malaikat.
“Betul” Jawab yang lainya
“Berapa kira – kira jumlah keseluruhan?”
“Enam ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira – kira yang
mabrur”, selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang – orang haji
tahun itu.
“Wah, itu sih urusan Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam – macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih
memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang
hajinya sudah berkali – kali, sementara masih banyak orang yang tidak
mampu, dan berbagai sebab lainya”.
“Terus?”
“Tapi masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur, tahun ini”
“Lho katanya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq”

Mendengar ucapan itu, Abdullah bin al-Mubarak langsung terbangun. Sepulang
dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, tapi langsung menuju kota
Damsyiq ( Siria ). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol
sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol
sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id
bin Muhafah. “Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu
sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Abdullah bin al-Mubarak
menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh, “Benarkah anda bernama
Sa’id bin Muhafah?” tanya Abdullah bin al-Mubarak. “Betul, kenapa?”
Sejenak Abdullah bin al-Mubarak kebingungan, dari mana ia memulai
pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. “Sekarang
saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda
berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar”
selidik Abdullah bin al-Mubarak sambil mengakhiri ceritanya.
“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya
memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu
setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai
tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini
biaya
itu sebenarnya telah terkumpul”
“Tapi anda tidak berangkat haji”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu
dia ngidam berat” “Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya
cari sumberdaging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh,
disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa
istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang
tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya
beli, dia tetap mengelak. akhirnya saya tanya kenapa?..
“Daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah
halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati
kelaparan,” Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis, lalu saya pulang,
saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya
uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin al-Mubarak tak bisa menahan air
mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya” Ucapnya.

Catatan :
Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang petapa termasyhur. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M.

 

Keadaan Mayit Setelah Dikuburkan…

2 Komentar

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya apabila mayit telah dikuburkan, dia mendengar derap alas kaki orang yang mengantarkannya ketika kembali dari tempat pemakaman.

Jika dia seorang mukmin, maka ibadah shalat akan berada di kepalanya, puasa berada di samping kanannya, zakat di sebelah kirinya, sementara seluruh perbuatan baiknya seperti sedekah, silaturrahim, amalan yang ma’ruf dan perlakuan baiknya kepada manusia berada di kedua kakinya.

Lantas ia didatangi dari arah kepalanya, sehingga amalan shalat berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’ Dia juga didatangi dari sebelah kanan sehingga amalan puasanya berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’ Ia kembali didatangi dari arah kiri, sehingga amalan zakatnya berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, sehingga segala perbuatan yang baik, seperti sedekah, silaturrahim amalan yang ma’ruf dan perlakuan kepada manusia berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’

Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Duduklah dengan tenang!’ Orang mukmin itu duduk dan ia diibaratkan seperti matahari yang tenggelam. Para malaikat bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah kamu katakan tentang lelaki yang diutus kepada kalian (yang dimaksud adalah Nabi Muhammad)? apa yang engkau persaksikan atasnya? Orang mukmin itu menjawab, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat terlebih dahulu.’ Dikatakan kepadanya, ‘Engkau boleh mengerjakannya, tetapi jawablah terlebih dahulu pertanyaan yang kami ajukan kepadamu, ‘Apa pendapatmu tentang seorang lelaki yang berada di tengah-tengahmu, apa komentarmu? Apa yang engkau persaksikan atasnya?’

Orang mukmin itu menjawab, ‘Lelaki itu adalah Muhammad, aku bersaksi bahwa dia itu Rasulullah , dia telah datang kepada kami dengan membawa kebenaran dari sisi Allah.’

Dikatakan kepadanya, ‘Ya, kamu benar, kamu telah hidup berdasarkan keyakinan ini, meninggal dunia juga dengan keyakinan ini dan akan dibangkitkan berdasarkan keyakinan ini Insya Allah.’

Lantas dibukakan untuknya salah satu dari beberapa pintu surga, kemudian dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat tinggalmu dan segala isinya yang telah dipersiapkan Allah untukmu.’ Maka dia merasa lebih bahagia dan gembira. Selanjutnya dibukakan untuknya salah satu dari beberapa pintu neraka, sambil dikatakan, ‘Inilah tempat tinggalmu dengan segala isinya yang telah dipersiapkan Allah jika kamu berbuat maksiat kepadanya.’ Dia semakin merasa gembira dan bahagia (karena tidak termasuk golongan ahli maksiat).

Kemudian kuburannya dilapangkan sepanjang 70 hasta, diberikan lampu penerang dan jasadnya dikembalikan seperti semula, dan ruhnya diletakkan ke dalam burung yang bertengger di atas pohon dalam surga. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah,

‘Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit (ucapan yang teguh) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ (Ibrahim: 27).

Namun apabila orang tersebut kafir, maka ia akan didatangi di kuburnya dari arah kepalanya dan ia tidak menemukan suatu kebaikan apapun (yang bisa melindunginya). Kemudian didatangi dari sebelah kanannya, dan ia tidak menemukan kebaikan apapun (yang bisa melindunginya). Lalu didatangi dari bagian kedua kakinya, ia juga tidak menemukan kebaikan apapun.

Lantas dikatakan kepadanya, ‘Duduklah,’ kemudian ia duduk dengan perasaan takut dan gelisah. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang dulu kamu katakan tentang laki-laki yang berada di tengah-tengah kalian?’

Ia tidak diberi petunjuk tentang nama lelaki itu (bahwa lelaki tersebut adalah Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam). Orang kafir itu menjawab, ‘Aku tidak tahu, memang aku dulu mendengar orang-orang telah mengatakan sesuatu, sehingga aku ikut-ikutan mengatakan apa yang mereka katakan.’

Lalu dikatakan kepadanya, ‘Berdasarkan ketidaktahuan (keraguan) inilah kamu telah menjalani hidup, dan berdasarkan (keraguan) inilah kamu mati, serta berdasarkan (keraguan) inilah kamu akan dibangkitkan (dari kubur) Insya Allah.’

Kemudian dibukakan untuknya salah satu pintu dari pintu-pintu neraka, dan dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat tinggalmu di neraka dengan segala isinya yang telah dipersiapkan Allah untukmu.’ Dan ia merasa lebih rugi dan menyesal. Kemudian dibukakan untuknya salah satu pintu dari pintu-pintu surga, dan dikatakan kepadanya, Inilah tempat tinggalmu di surga jika kamu taat kepada Allah.’ Maka ia menjadi semakin rugi dan menyesal (karena tidak termasuk ahli taat).

Kemudian disempitkan kuburannya hingga tulang-tulang rusuknya saling bertindih dan menjadi ringsek. Itulah kehidupan sempit sebagaimana yang dimaksud dalam firman Allah,

‘Dan barangsiapa berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.’ (Thaha: 124).” [ HR. Ibnu Hibban, 777; Mawarid al-Hakim, 1/379.]

[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Syaikh Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Edisi Indonesia: 61 KISAH PENGANTAR TIDUR, Pent. Darul Haq Jakarta] [alsofwah.or.id]

IMAM BUKHARI, Cahaya dari Bukhara

1 Komentar

Amirul Mukminin fil Hadits, gelar itu didaulatkan para ulama kepada ahli hadis dari Kota Bukhara, Uzbekistan. Tak salah bila ulama besar di abad ke-9 M ini ditabalkan sebagai ‘Pemimpin Kaum Mukmin dalam Ilmu Hadis’. Betapa tidak, hampir seluruh ulama merujuk kitab kumpulan hadis sahih yang disusunnya.

Para ulama juga bersepakat, Al Jami’ as Sahih atau Sahih Al Bukhari—kumpulan hadis sahih sebagai kitab paling otentik setelah Alquran. Sahih Al Bukhari yang disusun ulama legendaris asal ‘kota lautan pengetahuan’—Bukhara—itu juga diya kini kalangan ulama Sunni sebagai literatur hadis yang paling afdol.

Sang ulama fenomenal itu mendedikasikan hidupnya untuk menyeleksi secara ketat ratusan ribu hadis yang telah dihafalnya sejak kecil. Karyanya yang sangat monumental itu bak cahaya yang telah menerangi perjalanan hidup umat Islam. Ribuan hadis sahih telah dipilihnya menjadi pedoman hidup umat Islam, sesudah Alquran.

Ulama besar dan ahli hadis nomor wahid ini memiliki nama lengkap Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Ibnu Al Mughirah Ibnu Bardizbah Al Bukhari. Ia lebih dikenal dengan nama tanah kelahirannya, Bukhara. Dan, masyarakat Muslim pun biasa memanggilnya Imam Bukhari.

Pemimpin kaum Mukminin dalam ilmu hadis itu terlahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H, bertepatan dengan 20 Juli 810 M. Sejak kecil, Imam Bukhari hidup dalam keprihatinan. Alkisah, ketika terlahir ke dunia, Bukhari cilik tak bisa melihat alias buta. Sang bunda tak putus dan tak tak pernah berhenti berdoa dan memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan penglihatan putranya.

Sang Khalik pun mengabulkan doadoa yang selalu dipanjatkan ibu Imam Bukhari. Secara menakjubkan, ketika menginjak usia 10 tahun, penglihatan bocah yang kelak menjadi ulama terpandang itu kembali normal. Imam Bukhari sudah akrab dengan ilmu hadis sejak masih belia. Sang ayah, Ismail Ibnu Ibrahim, juga seorang ahli hadis yang terpandang.

Ismail merupakan salah seorang murid ulama terpandang, Hammad ibnu Zaid dan Imam Malik. Sang ayah tutup usia saat Imam Bukhari masih belia. Meski hidup sebagai seorang anak yatim yang serba pas-pasan, Bukhari cilik tak pernah putus asa. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, tanpa merisaukan masalah keuangan.

Ilmu hadis telah membetot perhatiannya sejak kecil. Selain belajar Alquran dan pelajaran penting lainnya, ilmu hadis adalah favoritnya. Sejak penglihatannya menjadi normal, dia sudah membaca karya-karya atau kitab hadis yang ada. Bahkan, menginjak usia 16 tahun, Imam Bukhari sudah mampu menghafal karya-karya Waki dan Abdullah Ibnu Al Mubarak.

‘’Sekali saja ia membaca buku, dia sudah hafall isinya,’‘ papar Ibnu Katheer yang terkagum-kagum dengan daya ingat sang ahli hadis. Daya ingat dan kecepatannya dalam menghafal sungguh tiada dua pada zamannya. Kekuatan intelektualnya sungguh sangat memukau dan menakjubkan.

Pada usia 10 tahun, Imam Bukhari sudah mampu menghafal 70 ribu hadis. Tanpa bermaksud jemawa, Imam Bukhari sempat berkata, ‘’Saya hafal seratus ribu hadis sahih dan saya juga hafal dua ratus ribu hadis yang tidak sahih.’‘ Ia tak cuma mampu menghafal ratusan ribu hadis, namun juga mampu menyebutkan sanad dari setiap hadis yang diingatnya.

‘’Dia diciptakan Allah SWT seolaholah hanya untuk hadis,’‘ tutur Muhammad bin Abi Hatim mengutip perkataan Abu Ammar Al Husein bin Harits yang terkagum-kagum dengan daya ingat dan kecerdasan Imam Bukhari. Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menilai, Imam Bukhari sebagai manusia di muka bumi yang paling kuat ingatannya dalam menghafal hadis.

Menginjak usia 16 tahun, Imam Bukahri bersama ibu dan saudaranya pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah. Perjalanan pertamanya ke Semenanjung Arab itu dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang ilmu hadis. Imam Bukhari pun berkelana dari satu kota pusat pengetahuan ke kota lainnya. Di setiap kota, ia berdiskusi dan bertukar informasi tentang hadis dengan para ulama.

Imam Bukhari sempat menetap di sejumlah kota pusat intelektual Muslim, seperti Basrah, Hijaz, Mesir, Kufah, dan Baghdad. Ketika tiba di kota Basrah, penguasa kota itu menyambut dan mendaulatnya untuk mengajar. Kedatangannya di Baghdad—ibu kota pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah—juga mendapat perhatian dari para ulama dan petinggi kota itu.

Sepuluh ulama hadis di kota itu pun mencoba menguji kemampuan dan daya ingatnya dalam menghafal sabda Rasulullah SAW. Para ulama itu lalu menukarkan sanad dari ratusan hadis. Dalam sebuah pertemuan, para ulama itu lalu menanyakan hadis-hadis yang telah ditukar-tukar sanad-nya itu.

Namun, Imam Bukhari mengaku tak mengenal hadis yang ditanyakan para ulama Baghdad itu. Lalu, ia membacakan hadis-hadis itu dengan sanad yang benar. Para ulama Baghdad pun terkagum-kagum dengan kecerdasan dan ketelitian sang ahli hadis. Ujian serupa juga dilakukan para ulama di berbagai kota yang disinggahinya. Dan, ujian itu berhasil dilaluinya dengan baik.

Pada usia 18 tahun, secara khusus, Imam Bukhari mencurahkan pikiran dan waktunya untuk mengumpulkan, mempelajari, menyeleksi, dan mengatur ratusan ribu hadis yang dikuasai dan dihafalnya. Demi memurnikan dan mencapai hadis-hadis yang paling otentik dan sahih, ia berkelana ke hampir seluruh dunia Islam, seperti Mesir, Suriah, Arab Saudi, serta Irak.

Dengan penuh kesabaran, ia mencari dan menemui para periwayat atau perawi hadis dan mendengar langsung dari mereka. Tak kurang dari 1.000 perawi hadis ditemuinya. Hingga kahirnya, Imam Bukahri menguasai hampir lebih dari 600 ribu hadis, baik yang sahih maupun dhaif. Perjalanan mencari dan menemukan serta membuktikan kesahihan hadis-hadis itu dilakukannya selama 16 tahun.

Setelah sekian lama mengembara, ia lalu kembali ke Bukhara dan merampungkan penysunan kitab yang berisi kumpulan hadis sahih berjudul Al Jami’ Al Sahih. Kitab hadis yang menjadi rujukan para ulama itu berisi 7.275 hadis sahih. Pada usia 54 tahun, dia berkunjung ke Nishapur, sebuah kota di Asia Tengah. Di kota itu, Imam Bukhari diminta untuk mengajar hadis. Salah seorang muridnya adalah Imam Muslim yang juga terkenal dengan kitabnya Sahih Muslim.

Imam Bukhari lalu hijrah ke Khartank, sebuah kampung di dekat Bukhara. Para penduduk desa memintanya untuk tinggal di tempat itu. Imam Bukhari pun tinggal di Desa Khartank hingga tutup usia pada usia 62 tahun. Ia meninggal dunia pada tahun 256 H/ 870 M. Meski telah meninggal 13 belas abad yang lalu, namun cahaya dari Bukhara itu tak pernah padam dan terus menerangi kehidupan umat Muslim.

Karya Besar Sang Ulama
Imam Bukhari tak hanya dikenal sebagai ahli hadis. Sebagai ilmuwan yang produktif, ia juga menulis kitab tafsir, fikih, dan sejarah. Berikut ini adalah beberapa karya besar sang ulama setelah Sahih Al Bukhari.

  • Tarikh Al Kabir
  • Khalq A’fal Ebad
  • Kitab Al Wahidan
  • Kitab Adab Al Mufrad
  • Kitab Adh Dhua’fa
  • Juz Raf Al Yadain
  • Juz Al Quraa Khalf Al Imam
  • Jami’a Al Kabir
  • afseer Al Kabir
  • Kitaab Al Ilal
  • Kitaab Al Manaaqib
  • Asami As-Sahabah


Kitab Shahih Bukhari

Metode Seleksi Hadis Ala Imam Bukhari

Imam Bukhari pantas disebut sebagai ilmuwan dan ulama yang profesional. Betapa tidak. Dalam meneliti, menyeleksi, serta menetapkan hadis sahih dari ratusan ribu hadis yang dihafalnya, Imam Bukhari melakukannya dengan sangat hati-hati. Untuk mendapatkan akurasi, ia melakukan perjalanan ke negaranegara Islam dengan menemui hampir 1.000 perawi hadis. Secara sabar, ia mendengarkan para perawi itu.

‘’Saya susun kitab Al Jami `Ash Shahihini di Masjidil Haram, Makkah, dan saya tidak mencantumkan sebuah hadis pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah SWT, dan sesudah meyakini betul bahwa hadis itu benar-benar shahih,’‘ ujar Al-Finbari, salah seorang murid Imam Bukhari, mengutip pernyataan gurunya.

Di masjid bersejarah itulah, Imam Bukhari mulai menyusun buku kumpulan hadisnya yang sangat monumental. Dasar pemikiran dan bab demi bab Sahih Al-Bukahri disusunnya secara sitematis di Masjidil Haram. Sedangkan, pembukaan serta pokok-pokok bahasannya ditulisnya di Rawdah Al Jannah—sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi, Madinah.

Pengumpulan, seleksi, dan penempatan hadis sahih dalam kitab Sahih Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan modern sehingga hadishadisnya dapat dipertanggungjawabkan. Untuk mendapatkan hadis yang benar-benar otentik, secara serius Imam Bukhari meneliti dan menyelidiki para perawai-nya.

Tak cuma itu, Imam Bukhari pun melaku perbandingan hadis. Satu hadis dengan hadis lain dibandingkan. Ia lalu menguji dan mempertimbangkannya secara ilmiah untuk memutuskan mana yang paling sahih. Keontetikan hadis yang disusun Imam Bukhari sudah sangat terbukti dan teruji.

Para ulama sepakat, hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Al Jami `ash Shahihmemiliki tingkat kesahihan yang paling utama. Profesionalitas yang ditunjukkan Imam Bukhari dalam melacak dan meneliti kesahihan sebuah hadis tak lepas dari bimbingan para gurunya. Beberapa ulama yang berpengaruh dalam kehidupan keilmuwan sang legendaris itu antara lain: Dhihaak Ibnu Mukhlid; Makkee Ibnu Ibraheem Khadhalee; Ubaidullah Ibnu Moosaa Abasa; Abdul Quddoos Ibnu Hajjaaj; dan Muhammad Ibnu Abdullaah Ansaaree.

Profesionalitas yang ditunjukkan Imam Bukhari juga menetes pada murid-muridnya. Begitu banyak muridnya yang menjadi ahli ilmu hadis yang terkenal dan terkemuka. Mereka adalah Turmudzi, Imam Muslim, Nasa’i, Ibrahim Ibnu Ishaq Al Harawi, Muhammad Ibnu Ahmad Ibn Dulabi, dan Mansur Ibnu Muhammad Bazduri.

Sumber : Republikaonline

Wara’nya seorang ibu

2 Komentar

Seorang ibu datang kepada Imam Ahmad bin Hambal untuk meminta fatwa mengenai pengalaman yang baru saja dialaminya. Dengan wajah bimbang, ia bertanya,

“Wahai pelita umat Islam, sesungguhnya saya ini perempuan tak punya. Saking melaratnya, sampai lampu untuk menerangi rumah pun kami tak punya. Karena pada siang hari saya harus mengurus pekerjaan rumah, maka saya mencari makan untuk kami sekeluarga pada malam hari.

Yang dapat saya lakukan untuk menopang kami sekeluarga adalah dengan merajut benang. Rajutan benang itu yang akan saya jual ke pasar. Untuk melakukan pekerjaan itu, biasanya saya menunggu bulan purnama, karena cahayanya cukup untuk menerangi kegiatan merajut benang,” ungkapnya kepada Imam Ahmad bin Hambal.

“Akan tetapi suatu ketika, lewatlah serombongan kafilah di depan rumah saya pada malam buta dengan membawa lampu yang sangat banyak. Maka, tidak saya sia-siakan kesempatan itu. Selagi mereka berdiri di tepi jalan pada saat lewatnya iring-iringan mereka, kesempatan itu saya gunakan untuk memintal beberapa lembar kapas,” lanjut perempuan itu tertunduk.

“Adapun yang saya tanyakan adalah: apakah uang hasil penjualan benang yang saya pintal dalam cahaya lampu milik iring-iringan kafilah itu halal bagi saya?”

Dengan seksama Imam Ahmad bin Hambal mendengarkan perkataan Sang Ibu tadi. Setelah sebuah pertanyaan dilontarkan si Ibu muslimah itu, dalam kekaguman yang tidak dapat disembunyikan, Imam Ahmad balik bertanya, “Siapakah Anda, yang menaruh perhatian terhadap perkara agama sedemikian besarnya di zaman ini, pada saat masyarakat Islam telah dikuasai oleh kelalaian dan kekikiran terhadap harta?”

“Saya adalah saudara perempuan Basyar Al Hafi Rahimahullah, ” jawab si ibu, masih dengan kerendahan hatinya.

Mendengar jawaban itu, spontan Imam Ahmad menangis tersedu-sedu. Itu tak lain karena yang baru saja disebut oleh si ibu tadi adalah nama seorang gubernur yang saleh dan mutashawwir yang lurus hati. Beberapa saat kemudian Imam Ahmad terdiam dan belum dapat menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya itu. Ia sibuk berdoa memohonkan rahmat atas gubernur yang shalih dan terus memujinya.

Beberapa saat kemudian, barulah beliau berkata, “Sesungguhnya kain penutup wajah yang anda kenakan adalah lebih baik daripada sorban-sorban yang kami pakai. Sesungguhnya kami ini tak patut jika dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah mendahului kita, ya Sayyidati. Sedangkan anda, ya Sayyidati, perempuan yang demikian luhur takwanya dan rasa takutnya kepada Allah SWT. Tentang pertanyaan yang anda ajukan, sebenarnya, tanpa ijin rombongan kafilah itu, tidak halallah bagi anda uang hasil penjualan benang tersebut.”

Sabili No.26 Th.IX

Nasihat untuk Khalifah

Tinggalkan komentar

Ketika Hisyam bin Abdul Malik menjadi khalifah di zamannya, tersebutlah seorang
tabi’in yang sangat termasyhur. Namanya Dzakwan bin Kisan yang sering dijuluki
Thawus alias si Burung Merak.

Suatu hari Hisyam bin Abdul Malik datang ke Makkah untuk menunaikan haji. Saat
memasuki Tanah Haram, dia berkata kepada para pemuka Makkah, “Carikan saya
seorang sahabat Rasulullah SAW.” Lalu para pemuka itu menjawab, “Wahai Amirul
Mukminin, para sahabat telah wafat susul-menyusul hingga tak satu pun dari
mereka yang tersisa.” Mendengar perkataan para pemuka Tanah Haram itu Hisyam bin
Abdul Malik berkata lagi, “Kalau begitu carikan saya tabi’in.”

Maka para pemuka Makkah memanggil Dzakwan bin Kisan.

Ketika menemui sang khalifah, Dzakwan bin Kisan membuka sepatunya di tepi
permadani, lalu memberi salam tanpa menyebut “Wahai Amirul Mukminin”. Dzakwan
bin Kisan hanya menyebut namanya saja tanpa sebutan kehormatan lainnya. Sesudah
itu, ia langsung duduk sebelum khalifah memberi izin dan mempersilakannya.

Hisyam sangat geram diperlakukan seperti itu, hal tersebut terlihat dari kerutan
marah di wajahnya. Dia menganggap kelakuan si Burung Merak itu sudah keterlaluan
dan kurang sopan. Apalagi peristiwa itu disaksikan oleh pengawal dan para
pembantunya.
Tapi sang khalifah sadar, ia tidak marah, karena ia sedang berada di Tanah
Haram, Baitullah.

Dengan sabar sang khalifah bertanya kepada Dzakwan bin Kisan, “Mengapa Anda
berbuat seperti itu wahai Dzakwan?”

Kemudian Dzakwan dengan enteng menjawab, “Lho, apa yang saya lakukan?”

Kemudian khalifah menjawab, “Anda melepas sepatu di tepi permadani saya. Anda
tidak memberi salam kebesaran, hanya memanggil nama, lalu duduk sebelum saya
persilakan,” Mendengar kegundahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Dzakwan malah
memberi nasihat dengan arif.

“Kalau soal melepas sepatu, saya melepasnya lima kali sehari di hadapan Rabb
yang Maha Esa. Maka hendaknya Anda tidak gusar karena itu. Kalau soal saya tidak
memberi salam kehormatan, itu karena tidak seluruh kaum muslimin berbaiat kepada
Anda. Oleh karena itu saya takut dikatakan pembohong apabila memanggil Anda
sebagai Amirul Mukminin. Anda tidak rela saya menyebut nama Anda tanpa gelar
kebesaran, padahal Allah SWT memanggil nabi-nabinya dengan nama mereka, “Wahai
Daud…, Wahai Yahya…, Wahai Musa…, Wahai Isa…, Wahai Adam…”. Sedangkan
persoalan bahwa saya duduk sebelum dipersilakan, itu karena saya mendengar
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata,” Apabila engkau hendak melihat
seorang ahli neraka, maka lihatlah pada seseorang yang duduk sedangkan
orang-orang di sekelilingnya berdiri.” Nah, saya tidak suka melihat Anda masuk
neraka,” katanya dengan enteng.

Usai memberi nasihat Dzakwan bangkit dari duduknya, lalu pergi.

(Sabili No.27 Th.IX)

 

Pembantu Yang Doanya Selalu Dikabulkan

1 Komentar

Basrah, Iraq. Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang kelihatan kurus-kurus.

Hari itu penduduk Basrah sepakat untuk mengadakan shalat Istisqa’. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama tertahan. Shalat itu akan dihadiri para ulama Basrah dan tokoh masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.

Benar-benar sebuah sholat Istisqo’ yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar Allah menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.

Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu. Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur’an mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.

Sholat dimulai. Dua rokaat sudah. Selesai itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka Allah. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.

Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Sholat Istisqa’ selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basrah.

Akhirnya diputuskan untuk menentukan hari lain. Mengulang sholat Istisqa’ berharap untuk kali ke dua ini, Allah mengabulkan doa mereka. Sholat kedua ditentukan. Suasana sholat ketika itu tidak jauh berbeda dengan sholat sebelumnya. Dan kali ini pun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para ulamanya semakin besar.

Sholat ketiga pun segera menyusul. Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis seperti yang pertama dan kedua, sholat yang ketiga pun mempunyai suasana yang sama. Dan ternyata hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan entah karena apa. Tanda tanya di hati para ulama Basrah kian menggelayut di dalam hati mereka masing-masing. Tanpa jawaban. Seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu kapan musim kering itu berlalu.

Tersisa Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di lapangan terlihat berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid yang tidak jauh dari tempat itu. Hingga malam datang menjelang. Masjid sudah sepi, tidak ada lagi yang sholat. Karena sudah malam larut.

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dengan perut buncit. Orang itu memakai sarung dari kulit domba, demikian juga kain yang dipakainya untuk atas badannya. “Aku memperkirakan semua yang dipakainya tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bin Dinar. Yang menunjukkan bahwa orang itu hanyalah orang miskin yang tidak memiliki banyak harta.

Malik bin Dinar mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang hitam itu di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit yang mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrab imam kemudian sholat dua rokaat. Sholatnya tidak terlalu lama. Surat yang dibaca tidak terlalu panjang. Ruku’ dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.

Selesai sholat, orang itu menengadah tangannya ke langit sambil berdoa. Malik bin Dinar mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang tidak terlalu tinggi tapi terdengar. “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”

Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, angin dingin pertanda mendung tebal menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”

Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tdai bertanya, “Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa Allah mencintaimu?” sambung Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”

Setelah berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon, “Sebentar, semoga Allah merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku.”

Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat untuk mengikuti dari jauh. Ternyata orang itu memasuki rumah seorang yang sangat kaya di Basrah yang bernama Nakhos. Malam sudah sangat larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panjang, karena rasa penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.

Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Malik yang memang mengenal nakhos itu segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya semalam. “Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak hitam yang dijumpainya semalam. Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai seratus budak. Kesemuanya bisa dipilih.” Mulailah Nakhos mengeluarkan budak satu per satu untuk dilihat Malik. Sudah hampir semuanya dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat budak yang dilihatnya semalam. Sampai Nakhos menyatakan bahwa budaknya sudah dikeluarkan semua. “Apakah masih ada yang lain?” tanya Malik. “Masih tersisa satu lagi,” jawab Nakhos.

Saat itu waktu mendekati waktu dhuhur. Saat istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak hitam yang dilihatnya semalam sedang tertidur lelap. “Nakhos, dia yang saya mau, ya demi Allah dia,” kata Malik semangat. Dengan penuh keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.” “Justru untuk itulah aku mau membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhan Malik, Nakhos memanggil budak tadi.

Dengan wajah kuyu, dengan rasa kantuk yang masih terlihat berat budak itu keluar menemui majikannya. Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah terserah berapa pun harganya agar aku cepat terlepas darinya.”

Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu. “Siapa namanya?” tanya Malik yang sampai detik itu masih belum mengetahui namanya. “Maimun.”

Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”

Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya Maimun keheranan. “Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu? Tanya Malik. “Jadi kalian sudah tahu saya?” Maimun kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu semalam,” kata Malik.

Budak itu meminta untuk diantar ke masjid. Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya dan masuk. Langsung sholat dua rokaat. Malik bin Dinar hanya bisa diam sambil mengamatinya dan ingin tahu apa yang ingin dilakukannya. Selesai sholat, orang itu mengangkat tangannya berdoa seperti yang dilakukannya kala malam itu. Kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”

Tangan diturunkan, budak itu kemudian sujud. Malik mendekatinya. Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun. Malik menggerakkan badan budak itu, dan ternyata budak itu sudah tidak bernyawa lagi.
(Tarbawi, No. 64 Th. 5)

Older Entries