Syair

SEBUAH PENDAKIAN

Terlintas getar hati secuil ciut yang tegang

Walaupun bukan serasa pertama

Dan sendiripun tak pernah

Memanglah serasa begitu akrab

Mengenai semua kesediaan terasa siap sudah

Sana dan sini sudah termaksud

Walau kelengkapan tak sempurna

Dan diantara kehijauan lembah

Tinggi menjulang menjangkau mega

Kesan angkuh tampak kentara

Serasa tak tertanding insan semua

Semua peluh tampak cahaya

Hal yang biasa mengingat daya

Jauh dari ramai hiruk suara

Beban yang besar tampak mulai bersuara

Naik semakin tinggi jurang semakin nyata

Padahal tak terpantau pula kaki dibawah

Serasa hangat namun semakin beku

Mengingat semakin dekat pula mega terjangkau

Sombong yang terlihat bukan tak tertanding

Walau kaku pula sendi sekujur

Letih yang berat acuh walau tak rela

Ceria wajah menangkal semua letih

Ternyata angkuh dan mega tak tertanding dapat disentuh

Ria tampak tak dibuat dan disengaja

Mengenang semua pendakian tersebut

Tampak diujung para tenaga

Selesai sudah semua kerja

Turun semakin rendah rasa yang puas

Ringan beban yang terasa

Melangkah tenang sampai kaki dibawah

SEORANG LELAKI TUA

Seorang lelaki tua termenung sunyi membentang lamunan

Ditemani oleh merdunya harmoni suara jangkrik dan kicau sang gagak

Segelas kopi manis yang tak lagi panas membuat terjaga

Dan asap tembakau dengan aroma yang khas

Entah berapa lama sudah sepi di hati

Menyibak kalbu yang rindu akan kehangatan

Menggugah nurani akan belaian saying

Seorang lelaki tua merajut mimpi membingkai takdir

Menegaskan kembali paradigma lama yang tak lekang oleh waktu

Semua asa telah tergenggam tapi perjuangan belum lagi usai

Sang surya pun nampak enggan menampakkan diri

Gema adzan subuh mengingatkan akan kesadaran

Membangkitkan kembali semangat kerja yang tak pernah luntur oleh jaman

1942

Ketika harga diri sudah tercabik cabik

Rela jiwa menjaga pertiwi tetap jaya

Ketika darah dan jiwa sudah tak ternilai

Rela harta agar bangsa tetap merdeka

Ketika tirani membelenggu hasrat yang tak cepat mati

Bersenandung erangan jiwa yang menjerit pilu menikam hati

Bergumam tentang nilai bangkai bangkai yang terbujur kaku

Lambaian tangan maut menikam kehampaan akan goresan arti

Menyingkirkan gundah rasa kecut menuai ciut yang membekas jiwa

Lalang penindas tak gentar serbuan anak negeri menantang luka

Membekas tirani mengikat negeri yang terkoyak seluruh jiwa

Mengabarkan tentang srigala yang memburu sebuah asa

Menaruh harapan menjadi belaian cinta yang mengusung api

Seakan penolakan memanggil kembali ceceran daya memerangi angkara

Membuai pesona akan langkah jingga

Menyunting melati berbau bangkai

Membuang nyawa berarti tumbal yang tak tersanding

Letup senapan prajurit mengusik kedamaian

Dengan derap langkah ringan mengayun semangat

Membentangkan sebuah angan tentang arti kebebasan

Walau berarti mati sama sekali tak berarti

LANGKAH  SEMU

Mengayun langkah memulai mimpi

Mengabdi pada suatu kehidupan yang suram

Menikmati rasa hidup yang terasa hampa

Menjadi raja bagi suatu kepahitan

Dan waktupun tak lagi bersahabat

Semenjak jiwa ini jauh dari Nya

Ataupun karma telah tiba waktunya

Menjadi sia-sia hal yang telah dilakukan

Tak ada yang tersisa walaupun sekedar ampas

Yang terjadi di kemudian hari

Mungkin hanya keajaiban yang terlambat datang

Semua daya telah dikerahkan

Menjadi pahit rasanaya jika terbuang percuma

Tampak megah suatu hal yang dinantikan

Walau keberhasilan tak kunjung didapat

Yang ada sekarang hanyalah bayangan dari masa lalu

Semua bayangan semu tentang arti kenikmatan

Termenung dan sesal tanpa dapat berbuat apapun

Menanti berakhirnya semua cobaan

NURANI

Saat dunia menggapai uzur terlindas jaman

Melayang fana terhembus bayu merantang nafsu

Iman yang gersang tak tersentuh buaian surga

Rasa yang mati tak tergoyah sentuhan yang suci

Lambaian sang maut terbalas acuh yang tak lagi kecut

Seperti bara api yang terbalut rasa yang sejuk

Harum melati yang tak lagi putih menjadi gumpalan rasa

Kalam illahi tak lagi terikat di hati yang penuh pesona

Hamparan pesan nabi termaktub menghias pelangi yang tak lagi berwarna

Melayang pandang tentang surga yang dibalut kabut kegetiran kalbu yang merana

Semburat fajar jingga samai membawa cahaya cerah

Seakan tertantang nyata dunia yang terbelah

Melawan rasa yang mati dan hati yang tercabik

Terusik kezaliman dan angkara yang seakan tak pernah tidur

Mengingatkan kendali akan jiwa yang sepi menjawab Tanya

Mencari makna hidup yang terasa ramai menggugah naluri yang rindu

LENCANA KEHIDUPAN UNTUK ANAKKU

Serpihan cinta bunda membuatmu tangguh,

akan membuatmu mampu mendekap dunia dengan tanganmu,

mengguncangkan isi dunia dengan nadimu,

menaklukkan senyuman fajar dengan matamu.

Reguklah madu kebahagian pada saat kebangkitanmu nanti

Ratapilah kesedihanmu diatas sajadah cinta yang membentang sampai lahatmu

Rajutlah hidupmu dengan sutra emas sampai ketepi renda penantianmu

Bahwa kelak kau akan sanggup menggenggam api…adalah benar karena kelak kau akan menjadi musuh utama sang nafsu.

Bahwa kelak kau akan sanggup memimpin…adalah benar karena kelak kau akan menjadi imam bagi setiap hembusan nafasmu

Bahwa kelak kau akan sanggup menjadi bijak…adalah benar karena kelak kau akan menjadi orang yang tidak pernah mendongkel waktu

Bahwa kelak kau akan sanggup menghidupkan kembali…adalah benar karena kelak kau akan selalu menebar wangi diatas pusara aku dan bundamu

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. hendra
    Sep 24, 2010 @ 10:44:11

    Syair yang bagus, terharu membaca lencana untuk razan……

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: