Ketika Hisyam bin Abdul Malik menjadi khalifah di zamannya, tersebutlah seorang
tabi’in yang sangat termasyhur. Namanya Dzakwan bin Kisan yang sering dijuluki
Thawus alias si Burung Merak.

Suatu hari Hisyam bin Abdul Malik datang ke Makkah untuk menunaikan haji. Saat
memasuki Tanah Haram, dia berkata kepada para pemuka Makkah, “Carikan saya
seorang sahabat Rasulullah SAW.” Lalu para pemuka itu menjawab, “Wahai Amirul
Mukminin, para sahabat telah wafat susul-menyusul hingga tak satu pun dari
mereka yang tersisa.” Mendengar perkataan para pemuka Tanah Haram itu Hisyam bin
Abdul Malik berkata lagi, “Kalau begitu carikan saya tabi’in.”

Maka para pemuka Makkah memanggil Dzakwan bin Kisan.

Ketika menemui sang khalifah, Dzakwan bin Kisan membuka sepatunya di tepi
permadani, lalu memberi salam tanpa menyebut “Wahai Amirul Mukminin”. Dzakwan
bin Kisan hanya menyebut namanya saja tanpa sebutan kehormatan lainnya. Sesudah
itu, ia langsung duduk sebelum khalifah memberi izin dan mempersilakannya.

Hisyam sangat geram diperlakukan seperti itu, hal tersebut terlihat dari kerutan
marah di wajahnya. Dia menganggap kelakuan si Burung Merak itu sudah keterlaluan
dan kurang sopan. Apalagi peristiwa itu disaksikan oleh pengawal dan para
pembantunya.
Tapi sang khalifah sadar, ia tidak marah, karena ia sedang berada di Tanah
Haram, Baitullah.

Dengan sabar sang khalifah bertanya kepada Dzakwan bin Kisan, “Mengapa Anda
berbuat seperti itu wahai Dzakwan?”

Kemudian Dzakwan dengan enteng menjawab, “Lho, apa yang saya lakukan?”

Kemudian khalifah menjawab, “Anda melepas sepatu di tepi permadani saya. Anda
tidak memberi salam kebesaran, hanya memanggil nama, lalu duduk sebelum saya
persilakan,” Mendengar kegundahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Dzakwan malah
memberi nasihat dengan arif.

“Kalau soal melepas sepatu, saya melepasnya lima kali sehari di hadapan Rabb
yang Maha Esa. Maka hendaknya Anda tidak gusar karena itu. Kalau soal saya tidak
memberi salam kehormatan, itu karena tidak seluruh kaum muslimin berbaiat kepada
Anda. Oleh karena itu saya takut dikatakan pembohong apabila memanggil Anda
sebagai Amirul Mukminin. Anda tidak rela saya menyebut nama Anda tanpa gelar
kebesaran, padahal Allah SWT memanggil nabi-nabinya dengan nama mereka, “Wahai
Daud…, Wahai Yahya…, Wahai Musa…, Wahai Isa…, Wahai Adam…”. Sedangkan
persoalan bahwa saya duduk sebelum dipersilakan, itu karena saya mendengar
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata,” Apabila engkau hendak melihat
seorang ahli neraka, maka lihatlah pada seseorang yang duduk sedangkan
orang-orang di sekelilingnya berdiri.” Nah, saya tidak suka melihat Anda masuk
neraka,” katanya dengan enteng.

Usai memberi nasihat Dzakwan bangkit dari duduknya, lalu pergi.

(Sabili No.27 Th.IX)

 

Iklan